<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d6735511\x26blogName\x3ddodYmania+-+a+daring+adventure\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://dodymania.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://dodymania.blogspot.com/\x26vt\x3d907746932591289706', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
a daring adventure...
Profile | Blog | Fellow Blogger | Links | Gallery
Monday, March 07, 2005

Viva Pemberdayaan UMKM Indonesia! (ingat, ini tak sebatas urusan kredit saja...)

Kiranya saya patut memberikan salut kepada Presiden SBY dalam pencanangan aksi penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM; seperti yang dituliskan pada harian Kompas (Minggu, 27/2). Oh well, mungkin ini sedikit terlambat... sesungguhnya saya berharap pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sudah mendapatkan perhatian dalam skala nasional sejak beberapa tahun sebelumnya. Bukannya mau menyindir bapak yg satu ini, tapi memang di antara fellow bloggers yg saya kenal hanya dia lah yang berafiliasi dengan KKPPI (alias Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Indonesia) maka kiranya patut lah buatnya untuk kali ini menjadi obyek penderita! Hehehe... *melirik RiO* :-) Dari dulu yg dilihat kok urusan infrastruktur melulu... memangnya kita ini ndak butuh perhatian opo piye? Mentang-mentang mega proyek infrastruktur itu urusannya selalu berujung pada duit yg super-duper-besarnya trus... kita-kita ini diabaikan? *ngamuk-ngamuk mode on* Tenang... sabar... memang lah pembangunan infrastruktur itu penting adanya... namun tak kalah penting untuk pemerintah memberikan perhatian (serta realisasinya) pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UMKM ini! *winks* ... sambil melirik Rio yg melempar sandalya ke arah saya... *duck* saya menunduk dan menghindar... *plaaak* sandal pun jatuh tak mengenai sasaran... *dodY smiles* Eh, sudah.. cukup dengan ngeledekin Rio, skrg waktunya utk kembali serius! :-)

Dunia UMKM yang telah banyak terbukti mampu bertahan di tengah terpaan krisis ekonomi boleh dikata bernasib seperti "anak tiri" yang dibuang sayang namun dipelihara sedikit merepotkan. Dalam pemikiran yg sederhana, konsep UMKM seharusnya dapat menjadi salah satu fokus utama pembangunan pemerintah kita. Dengan kemampuan menyerap sejumlah tenaga kerja yg cukup signifikan maka jumlah pengangguran yg menggunung di negeri ini kiranya dapat dikurangi secara substansial. Masih ingat dengan janji kampanye presiden utk menciptakan berjuta-juta lapangan pekerjaan dalam waktu 5-tahun periode kepemerintahannya? Mau pake strategi pembangunan infrastruktur? Haha... ke laut aja deh! Mo kerja apa? Bukannya justru pembangunan ini berfokus pada pemberdayaan "alat-alat berat" ketimbang elemen sumber daya manusia dari segi kuantitas? Ih.. ih... kok gw jadi sirik begini yakz? Hehehe!

Entah knapa yah... akhir2 ini kok saya jadi sedikit cynical... tapi menurut saya berbagai mega-proyek infrastruktur itu tak lebih dari sekedar menguntungkan para pengusaha kelas kakap yg hanya berjumlah segelintir.... meskipun secara obyektif saya harus mengakui bahwa utilitas dari berbagai sarana infrastruktur tersebut masyarakat juga lah yang menikmatinya! Namun coba bandingkan dengan "kepedihan" sekian juta penduduk negeri ini yg harus meneteskan keringat darah demi sebuah lapangan kerja yg semakin langka di negeri sendiri. Rasanya semakin sedih saja... di kala kita harus menyaksikan perjuangan ratusan ribu TKI dikejar-kejar bak manusia yg tak berarti hanya karena status ilegal-nya di negeri jiran tsb! Sementara itu sebagian besar dari mereka tak kapok juga dan ingin segera kembali merantau setelah mengurus berbagai dokumen imigrasi yg diperlukan. Alasannya sederhana: di kampung ngga ada kerjaan... duitnya lebih gede di negeri sebrang itu. Kalo udah gini masih juga mikir infrastruktur? Muke loe jauuhhh... waakzz.. *kumat mode on*

Idealnya, usaha-usaha pengembangan UMKM dapat dipandang juga sebagai salah satu usaha pemberdayaan masyarakat. Idealnya juga, UMKM yg berkembang dengan baik dan terpadu mampu menyerap sejumlah tenaga kerja yg cukup subtansial di wilayahnya masing-masing. Belum lagi perspektif yg memandang UMKM sebagai sarana pembelajaran masyarakat setempat tentunya dapat memberikan manfaat yg tak kalah dahsyat! Sudah banyak kisah para wirausaha sukses yg merekrut masyarakat sekitar untuk dapat bekerja dan belajar hingga nantinya mereka mampu mengembangkan usahanya sendiri dan lebih mandiri (tak lagi bergantung sebagai sekedar pekerja di bag. produksi). Dengan begini masyarakat mampu membuka lapangan kerja bagi diri sendiri, tak lagi bergantung pada pemerintah... secara pasar tenaga kerja di negeri ini boleh dikata masih saja "tampak lesu dan tak bergairah". Dari sini dapat dilihat betapa dampak pengembangan UMKM yg baik dan terpadu dapat membuat masyarakat lebih berdaya dan mandiri. Bukankah ini sebuah hal yg positif... mengingat seringkali "mereka" masih saja dipandang sebagai kelompok yg "membebani" pemerintah? Meringankan tugas negara... presiden pun tak perlu repot-repot... hihihi, bukan kah begitu, minna-san?

Tapi tunggu dulu... itu tadi dengan catatan: "idealnya" lhoo... :-) Lalu bagaimana dengan kenyataan di lapangan? Saya ngga bilang kalo semuanya jelek dan dalam kondisi parah! Kisah sukses UMKM di negeri ini boleh dikata cukup banyak! Beberapa bahkan mampu melayani berbagai kebutuhan komoditas tertentu untuk pasar luar negri. Program pembinaan UMKM oleh berbagai BUMN serta beberapa perusahan swasta besar (baik asing maupun nasional) kiranya patut mengundang decak kagum serta acungan jempol dari kita semua. Idealnya siy bisa seperti apa yg saya sebut di atas... namun tak semuanya berjalan sesuai "norma-norma ideal" itu 'kan? Kiranya kita tak boleh begitu saja menutup mata bahwa keberhasilan itu belum pula dinikmati oleh sebagian besar masyarakat kita. Iya... sebagian besar... bisa dibilang permasalahannya cukup kompleks serta jumlah yg ditangani pun tak kalah besar pula. Daftar UMKM yg "kembang-kempis susah bernafas" di tengah kerasnya persaingan bisnis itu memang sangat panjaaaang... meliuk-liuk bagaikan ular naga yg bergeliat ke sana-kian kemari. Hehehe... jadi, tak dapat disangkal lagi kalo ini menjadi salah satu PR besar bagi pemerintah untuk segera diselesaikan!

Meski keberpihakan pemerintah terhadap pengembangan dunia UMKM di negri ini sudah "mulai tampak" namun sayangnya usaha-usaha tersebut boleh dibilang masih berkesan "setengah hati". Hingga kini pemerintah belum berani menampilkan "gebrakan" akan usaha-usaha pemberdayaan UMKM yg terpadu. Entah sengaja menutup mata atau memang bener2 ngga tau yah... tapi masa kebangetan bgt siy?!? Pemberdayaan UMKM itu bukan sekedar pengucuran kredit-mikro semata. Memang, harus diakui bahwa permodalan merupakan masalah yg dihadapi oleh pengusaha kecil... tapi itu bukan segala-galanya. Percuma saja gembar-gembor kebijakan kredit permodalan bagi usaha mikro tapi kesemuanya tidak dilaksanakan secara terpadu! Jangan dikira kalo urusan modal beres semuanya akan berjalan lancar! Pemerintah "PERLU" merancang program terpadu yg juga melibatkan pendampingan dan pembinaan manajemen kewirausahaan bagi mereka! Sering kali UMKM sulit berkembang karena jiwa kewirausahaan dan kemampuan manajemen usaha yg kurang terasah. Jadi memang hal ini tidak bisa ditawar lagi! Kemandirian UMKM Indonesia tidak hanya dilihat dari perspektif permodalan namun juga dari perspektif ketangguhannya dalam menjalankan manajemen usaha.

Aaahh, tidak kah pemerintah perlu membuka mata lebar2 untuk melihat kenyataan di lapangan ini? Atau jangan2 selama ini yg dipake adalah "kaca mata kuda" yg membutakan terhadap keadaan sekitarnya? Arrggh.... semakin geram saja! Belum lagi "kesalahan identifikasi" dalam merancang kebijakan teratasi, mental buruk para oknum itu sudah duluan beraksi dalam menyalahgunakan dana yg disalurkan! Ahh... betapa repotnya menjadi rakyat kecil. Belum sampai bantuan ke tangan... eh, sudah ditilep duluan! Repooot... repooot!!! Siapa yg tak geram dengan keadaan seperti ini?

*Sigh*... kiranya dunia pemberdayaan UMKM di negri ini hanya bisa "sejenak" menikmati saat-saat "bernafas lega". Masa keceriaan itu tak lebih dari euforia sesaat. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) no. 9/2005 ttg Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Negara telah diputuskan pembatasan (ohh... tunggu dulu) penghapusan kewenangan Kementrian Negara Koperasi dan UKM untuk melakukan kegiatan teknis. Jadi, keberadaan institusi setingkat mentri tersebut hanya berwenang dalam penyusunan kebijakan namun tidak berwenang (authorised) dalam realisasi (execution) program kerja yg disusunnya. Dengan kebijakan ini maka tak satu pun institusi pemerintah yang berwenang dalam pelaksanaan program pemberdayaan UMKM! Wewenang fungsi penyusunan program tak lebih hanya mampu berperan sebagai corong megaphone untuk berkoar-koar tanpa ada kemampuan utk bertindak sama sekali! Oh... ini kah kebijakan lepas tangan pemerintah dalam tanggung jawabnya? Saya harap tidak... *berusaha utk tidak berburuk-sangka*! Saya harap dalam waktu dekat pemerintah dapat menyusun kebijakan baru yg menentukan institusi yg bertanggung jawab dalam pelaksanaan program pemberdayaan tsb. Jadi, tidak sekedar menyusun program saja :-p Bukan 'kah begitu, minna-san?

OK! Mungkin ini tak lebih dari sekedar tulisan subyektif saya... tapi ya bodo amat! Ini kan blog gw... suka2 dunk mo nulis apa! Lagian juga hari gini bertahan dengan pendapat obyektif? Hikkz, bahkan seorang presiden pun masih sanggup berpikir dan bertindak subyektif! Lalu bagaimana dengan seorang dodY? Pastinya lebih subyektif 'kan? Huahau... *egois mode on* Saya berharap setidaknya dewan pembaca yg budiman bisa sedikit lebih aware terhadap sepak-terjang dunia pemberdayaan UMKM di negri ini. Semoga juga pencanangan Micro-Finance Year tidak jadi sekedar penanda seremonial belaka, namun lebih pada keberpihakan dan realisasi pemerintah pada pengembangan UMKM secara terpadu di negri ini. Hehehe, boleh kan berharap positif seperti ini... *semoga mode on*. Sebagai seorang sarjana ekonomi-to be (terjebak dlm jeratan skripsi) saya berharap agar carut-marut penanganan hal ini bisa terselesaikan dengan tuntas! Lebih dari itu... sebagai seorang "community-development specialist wannabe" saya bercita-cita untuk nantinya bisa berperan dalam perancangan dan pelaksanaan program pemberdayaan UMKM yg lebih terpadu. Demi rakyat... demi bangsa... demi Indonesia! *nasionalis mode on*. Aslinya siy bukan itu: ... Demi profesionalitas tugas comm-dev specialist :-p Yang penting itu adalah pay-check, soal idealisme itu nomor tiga puluh tujuh! huahauha!

Have a HardRocking Day, Minna-san!

posted by dodY @ 20:53




Dody Priambodo
Jakarta, Indonesia
mazuta2222@yahoo.com

dodY defines himself as a self-proclaimed late-twenties plain guy. after... God knows how many years, he finally managed to get out from FE Univ. Airlangga. lately, figuring out how to enjoy the heavy workload and endless boredom at work seems to be a challenging adventure. this guy considers himself highly energetic and vibrant, yet balancing banalities of being an incurable drama queen proves to be a full-time challenge. he sees himself clamored by surroundings of good friends that last for a lifetime. how? by ruling the cyber world for sure! this man confidently regards himself as half-Queenslander and being a huge fan of Brisbane Broncos is only a matter of local pride.

dodY lures himself into watchable flicks, smooth jazz, and delectable food. healthy recipes? oh, that stands merely as an unnecessary option! dodY claims himself a huge fan of Hanshin Tigers as a cover-up of having lack interest in sport. he lays great admiration on Carol Shields as much as his enjoyment toward her works. dodY finds an ultimate pleasure on his addiction to "jalan-jalan"; which refers to plenty of travel with lots of leisure. and, oh! this fellow thinks himself as an expert in Community-Development issue in the future. now, let dodY develop himself to behave well for the sake of a community to exist!


blog ini lebih cihuy dibuka pake Get Firefox! cobain deh!
ShoutBox
Previous Posts
Archives
Navigation
Credits
Powered by Blogger.com
Comments Powered by Haloscan.com
visit pralangga.org