<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d6735511\x26blogName\x3ddodYmania+-+a+daring+adventure\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://dodymania.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://dodymania.blogspot.com/\x26vt\x3d907746932591289706', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
a daring adventure...
Profile | Blog | Fellow Blogger | Links | Gallery
Saturday, October 30, 2004
punya (hampir) 4 kartu kredit? hehe :-)



G'day minna-san! Apa kabar semuanya? Sorry untuk penantian yg cukup lama untuk update blog ini! Hehe, biasa lah.. lagi penuh semangat ke kampus (insyaf pula) utk ngurusin skripsi yg entah kapan akan selesai :-p Jadi.. gimana kabar? Hope this finds you all well as I'm doing fine here.

Kaget baca judul di atas? Hehehe... sorry kalo rada offensive ya! Soalnya, hari gini ngomongin soal kartu kredit memang bikin sensi aja :-) Masih merujuk pada posting sebelumnya... akan betapa seringnya kita take things for granted... kali ini urusannya ama kartu kredit. Jadi, buckle up.. brace yourself for this spectacular story of the week! Hehe.. ember banget!

Memang mungkin benar adanya kalau jeratan kartu kredit bisa membuat kita mati tak berkutik... namun dengan penggunaan yg "sakinah-mawadah-dan-warohmah" (waakkss!! penggunaan khasanah kebahasaan yg religius) kiranya hal itu tak perlu terlalu merepotkan! Apalagi kalo mesti bertransaksi on-line! Mo bayar pake Debit BCA? Haha.. ngaco aja kali yah! Belum lagi utk transaksi dengan nominal yg besar... repot pisan kan kalo mesti bawa banyak uang tunai?! Tapi masalahnya.. utk bisa dapetin "uang plastik" ini memang ngga gampang! Secara pihak bank / penerbit kartu kredit ngga sembarangan memberikan kepercayaan itu kepada semua orang! Nah... ini lah yg menjadi pelajaran berharga bagi saya!

Untuk bisa mendalami kisah ini kita perlu kembali melalui sebuah kilas balik ke akhir tahun 2001, saat saya masih berkarya di sini. Dengan sedikit dipaksa oleh agent kartu kredit, akhirnya terjerat pula saya utk mengisi aplikasi kartu kredit itu! Lalu.. bagaimana persyaratan minimum annual income yg disyaratkan oleh bank? Hehe... ternyata ungkapan "tak ada yg tak mungkin" memang berlalu di Indonesia! Tokcer pula adanya! Dengan sedikit ilmu sulap, aplikasi saya disetujui pula tanpa banyak ba-bi-bu! Dan, tak sampai dua tahun masa keikutsertaan saya... pagu kredit itu pun dinaikkan secara bertahap oleh bank! Hehe.. mereka tak tahan dengan perihnya mata saat melihat tagihan saya yg selalu selangit itu :-) Gila deh... kerjaan boleh saja kuli, tapi tagihan kartu kredit ngga mau kalah ama bos! Hahaha!

Pertengahan tahun 2002 saat saya berencana berangkat ke Jepang utk melaksanakan program pertukaran yg diselenggarakan JICA kejadian mengenai kartu kredit terulang kembali. Ayah saya menyiapkan rencana keberangkatan itu dgn selembar kartu kredit (sbg supplementary card dari rekening yg sudah dimilikinya) untuk berjaga-jaga demi kepentingan yg mendesak. Meski keberangkatan saya kala itu tak sampai terlaksana, toh aplikasi kartu kredit itu disetujui juga oleh pihak bank. Semakin penuh juga dompet saya! Sudah ada satu kartu kredit milik sendiri dari HSBC, kini ketambahan satu lagi dari kartu dari Bank Niaga. Hehehe... tenang! Ini kartu tambahan dari rekening ayah saya... jadi bukan sepenuhnya milik saya! Jangan sensi dulu yah ... :-)

Oh ya.. sekedar intermezzo: kartu kredit dari ayah saya itu ternyata memang bener2 terpakai utk keperluan mendesak! Thai Airways memang paling kejam kalo utk urusan bagasi extra! Lumayan juga tuh.. dari sekitar xx kg (sengaja jumlah yg sebenarnya di-sensor utk melindungi para pelaku kejahatan, haha) kelebihan "muatan" group kita hanya diakui 5kg yg perlu dibayar! Udah gak punya duit cash (maklum, namanya juga banci shopping) dan kalo ngga dibayar kita bener2 ngga bisa pulang! Tak pelak.. tengah malam (saat transaksi berlangsung) pihak bank mengkonfirmasikan hal ini pada orang tua saya! Hahaha... saya rasa bagus juga saat terjadi trx dlm jumlah nominal besar, di luar negri pula (sebuah pola yg tak lazim?) pihak bank berusaha mengkonfirmasikan sebelum "pintu" approval itu "dibuka" :-)

So guys, pesan moral dari kejadian tadi adalah: next time you fly with Thai Airways


jangan coba-coba berpikir utk melawan mereka dalam urusan excess luggage! Jangan terkecoh dengan motto "Smooth as Silk" serta genuine Thai hospitality yg mereka promosikan! Apalagi dengan senyum manis dari flight attendant mereka...


semanis ini...


atau bahkan seindah yg ini...

karena dibalik senyum indah itu ternyata tersimpan sebuah kekejaman yg mendalam! Hahaha!

OK...!!! Kembali ke kisah kartu kredit! Cerita kepemilikan kartu itu tak berhenti begitu saja! Sudah ada dua kartu, kini kartu ketiga menanti datang :-) Mendekati pertengahan tahun ini HSBC berusaha mati-matian menghubungi saya! Berusaha membujuk utk saya mengajukan aplikasi utk Visa (sebelumnya saya menggunakan Master Card) sehubungan dengan promo yg sedang mereka jalankan. Instant approval, Bpk. Dody! Jadi ngga pake nunggu proses survey dan verifikasi seperti pada aplikasi biasanya! Gartis iuran tahun pertama serta ada bonus jam tangan pula! Bapak hanya perlu mengisi formulir dan foto kopi KTP! Beres! Begitu kira-kira ucap si staff HSBC! Orang bank emang pinter banget yah kalo soal membujuk, merayu dan menipu gini yah! Hahaha... kalo ada yg merasa jangan tersinggung yaaaaah :-) Dan benar adanya! Ajaib!!! Hanya dalam hitungan sekitar 3-4 minggu, kartu kredit yang ketiga sudah mengisi dompet saya! Hwaaaaaa....

Saya pikir memang dunia sudah gila! Dengan status saya sebagai pengangguran yang sudah tak lagi berkarya... tak punya income.. tapi kok ya mereka berani-beraninya membuka pintu approval proses aplikasi kartu kredit itu! Ini.. saya yang terlalu rakus atau kah bank yg terlalu bego yah? Hehehe, silakan jawab sendiri! Jadi bagaimana rasanya punya 3 kartu kredit sementara saya sendiri ngga punya income? Jawabannya: feels like HELL :-) huahua!!!

Sekali lagi.. kisah itu tak berhenti di sini! Sebulan setelah itu.. kembali Bank Niaga menelpon saya dengan penawaran serupa! Gila... kompetisi penerbitan kartu kredit dalam industri perbankan kita memang sengit adanya! Sampai begitu gencarnya promosi itu tak pandang bulu... saya pun terkena serangan itu juga! Instant approval, Bpk. Dody.. free first annual fee... bla.. bla.. bla... Hahaha.. dalam urusan bujuk rayu ternyata mereka semua saja!!! Tak perlu banyak bicara: "Mbak, saya tuh udah punya 3 kartu kredit aja rasanya udah kayak orang mo mati! Nah ini mo ditambahin satu lagi jadi empat? Hmm.. kayaknya ngga deh! Terima kasih... Selamat siang! Klik.. dan telpon itu saya tutup! Hehehe... coba bayangkan apa jadinya kalo saya benar2 mengambil tawaran itu?! Tidak! Cukup sudaahh :-P

So.. the moral of the story is: saya (dan mungkin kita) mungkin terlalu banyak / sering taking things for granted! Di negri kita banyak bank memang belomba-lomba (seperti layaknya rumah produksi sinetron yg "kejar tayang") dalam menerbitkan kartu kredit. Di negri ini saya dengan mudahnya berani menolak tawaran aplikasi kartu kredit dari bank... bahkan untuk tawaran instant approval sekali pun! Hahaha.. sombong banget yah! Bayangkan... di negri ini hal itu mungkin tidak bisa berlangsung semudah yg saya sebutkan tadi. Belum lagi dengan bapak yg satu ini yg mana usahanya utk mengajukan aplikasi kartu kredit belum juga berhasil... secara persyaratan yg harus dipenuhi memang yg benar2 ribet adanya :-) Apa yg begitu mudah saya "dapatkan" di negri sendiri ternyata tidak selalu begitu adanya di negri lain. Jadi pesan saya: DON'T TAKE THINGS FOR GRANTED!!!

Terima kasih anda telah menyimak forum curhat online bersama saya Dody Priambodo; kita akan kembali di hari dan waktu yang sama minggu depan! Tetaplah bersama dodYmania :-) Sampai jumpa! (hehehe... udah kaya' Metro TV yah?). Have a hardrocking weekend, minna-san!

regards,

dodY
xxxx

posted by dodY @ 22:54




Dody Priambodo
Jakarta, Indonesia
mazuta2222@yahoo.com

dodY defines himself as a self-proclaimed late-twenties plain guy. after... God knows how many years, he finally managed to get out from FE Univ. Airlangga. lately, figuring out how to enjoy the heavy workload and endless boredom at work seems to be a challenging adventure. this guy considers himself highly energetic and vibrant, yet balancing banalities of being an incurable drama queen proves to be a full-time challenge. he sees himself clamored by surroundings of good friends that last for a lifetime. how? by ruling the cyber world for sure! this man confidently regards himself as half-Queenslander and being a huge fan of Brisbane Broncos is only a matter of local pride.

dodY lures himself into watchable flicks, smooth jazz, and delectable food. healthy recipes? oh, that stands merely as an unnecessary option! dodY claims himself a huge fan of Hanshin Tigers as a cover-up of having lack interest in sport. he lays great admiration on Carol Shields as much as his enjoyment toward her works. dodY finds an ultimate pleasure on his addiction to "jalan-jalan"; which refers to plenty of travel with lots of leisure. and, oh! this fellow thinks himself as an expert in Community-Development issue in the future. now, let dodY develop himself to behave well for the sake of a community to exist!


blog ini lebih cihuy dibuka pake Get Firefox! cobain deh!
ShoutBox
Previous Posts
Archives
Navigation
Credits
Powered by Blogger.com
Comments Powered by Haloscan.com
visit pralangga.org